Kota siaga. Penyerangan sebuah markas polisi di barat laut oleh kelompok bandit meningkatkan kewaspadaan. Kepolisian terus menggelar patroli terutama malam hari. Mobil patroli ditempatkan di beberapa titik yang dianggap rawan. Dua ratus mobil dengan 400 personil disebar di seluruh kota.
Warga tak berani keluar malam kalau tidak terpaksa. Lampu-lampu jalan yang sempat dipadamkan demi menghemat listrik kembali dinyalakan. Kota kembali terang benderang meski sepi merajai. Suasana empuk bagi kelompok bandit untuk kembali beraksi. Pusat perniagaan kota menjadi sasaran kelompok bandit berikutnya.
Delapan bandit melaju berpasangan dengan empat unit sepeda motor. Menembus udara dingin. Setengah jam berkendara mereka berhenti di sebuah bundaran yang masih memancurkan air. Bergegas turun sambil menembakkan senjata ke pos polisi lalu lintas dan sebuah mobil patroli yang diam di sana.
Tak siap dengan serangan, empat polisi meregang nyawa. Kelompok bandit pergi dengan tenang.
/*/
Jurnalis yang disiagakan meliput serangan kelompok bandit meluncur ke lokasi peristiwa. Jurnalis televisi, radio, dan situs berita langsung melaporkan kejadian tersebut ke seluruh negeri. Jurnalis harian pagi sibuk mengumpulkan data yang benar-benar akurat agar tetap punya nilai jual saat terbit.
“Tiga jam lagi kita serang Titik Kulminasi 5,” sebut Pemimpin Bandit di persembunyian mereka.
Para anggotanya mengangguk sambil mata tetap menatap pada pesawat televisi 14 inci. Semua saluran menyiarkan berita serupa. Kelompok bandit tersenyum dan saling mengucapkan selamat satu sama lain.
“Serangan ini juga menewaskan seorang pengendara motor,” sebut penyiar televisi. Bandit diam. Serentak menyimak laporan langsung reporter dari lokasi peristiwa.
“Siapa yang menembak dia?,” tanya Pemimpin dengan suara tertahan menahan geram. Dipandangi delapan wajah anggotanya bergiliran.
“Saya,” jawab Jangkung.
“Bodoh. Kenapa? Kau tidak ditugaskan membunuh selain para antek neraka itu.”
“Karena dia pemuja setan,” Jangkung menunjuk layar televisi, “Lihat, Pemimpin, dia memakai jaket Manchester United. Kita semua tahu bahwa Manchester United adalah setan merah. Lihat gambar setan di lambang tim itu. Pemakai jaket ini tak berbeda dengan para antek neraka itu.”
“Setelah serangan Titik Kulminasi 5, kau harus memisahkan diri. Cari tahu dimana lelaki itu tinggal. Dan kau harus meminta maaf kepada keluarganya,” perintah Pemimpin.
“Tapi, Pemimpin. Bagaimana saya menjelaskan kepada keluarganya? Saya bisa tertangkap dan dihakimi massa. Kalaupun saya berhasil diamankan, tentu saya akan disidangkan. Jaringan kita bisa terbongkar,” Jangkung kecut.
“Kau sudah dilatih untuk menghadapi kondisi seperti itu,” tegas Pemimpin kepada Jangkung. “Kalian semua sudah dilatih menghadapi setiap kondisi sulit yang membahayakan perjuangan kita,” seru Pemimpin lagi kepada seluruh anggotanya yang kemudian serentak meneriakkan sesuatu.
/*/
Kematian seorang pengendara motor oleh kelompok bandit memunculkan ragam spekulasi. Media massa menyebut bahwa pengendara motor itu seorang mahasiwa. Aktif di pergerakan kampus dan rajin menggalang demonstrasi menentang kebijakan pemerintah.
“Dari berbagai kejadian yang meneror kita akhir-akhir ini, ini adalah konspirasi penguasa,” analisa Pakar Intelijen yang tengah laris melalui layar kaca.
Lawan Pakar Intelijen, Pakar Hukum, yang kecanduan popularitas memanfaatkan analisa itu sebagai pintu masuk kanal-kanal televisi. “Tidak mungkin ini konspirasi. Penembakan terhadap mahasiswa ini hanya kebetulan. Kelompok bandit mungkin menganggap ia saksi mata,” papar Pakar Hukum di stasiun televisi lain.
Pakar Hukum begitu bersemangat. “Kalaupun penembakan mahasiswa ini konspirasi, saya kira tidak masalah juga. Anda tahu kalau si mahasiswa ini sangat ekstrem membakar massa aksi menentang pemerintah?”
“Maksud Anda?”
“Dari rekaman-rekaman orasinya yang berhasil saya dapatkan, si mahasiswa ini selalu menggunakan jargon-jargon Marxisme dan komunisme.”
“Jadi, kalaupun konspirasi, ini sah-sah saja menurut Anda?”
“Ya.”
“Komentar-komentar Anda terhadap pemerintah sepertinya berubah. Biasa Anda kritis, tapi kali ini….”
“Oh, tidak. Tugas saya adalah menganalisa secara objektif. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kritik saya terhadap pemerintah seperti yang selama ini saya lakukan,” sanggah Pakar Hukum.
“Bukan karena desas-desus yang beredar di kalangan jurnalis bahwa Anda akan diangkat sebagai…?,”
“Oh, tidak. Seperti yang saya katakan bahwa saya menganalisa sesuatu secara objektif. Sesuai dengan latar belakang keilmuan dan kepakaran saya. Ini tidak ada hubungannya dengan desas-desus yang menyebut saya akan diangkat sebagai Jaksa Agung,” bantah Pakar Hukum.
“Berarti desas-desus itu benar?,”
“Saya tidak tahu itu.”
Opini publik yang sempat mengarah kepada analisanya kembali mengamini analisa Pakar Intelijen. Reaksi atas analisa Pakar Intelijen muncul. Mahasiswa dan penggiat gerakan perubahan di seluruh kota menggelar demonstrasi.
Serangan kelompok bandit atas markas polisi lain yang berselang tiga jam dari serangan pertama tercuri dari perhatian. Hasil pertandingan Liga Champions Eropa tak lagi menarik. Begitu pula pertunjukan musik rock tiga hari tiga malam yang digelar satu produsen rokok. Apalagi studi banding anggota legislatif ke luar negeri.
Kota penuh demonstrasi. Suara tuntutan pembubaran organisasi ini dan organisasi itu menjalari negeri. Tak ingin Peristiwa Mei terulang, Wali Negeri mencoba menenangkan massa. Apa daya, tuntutan berubah menjadi: Turunkan Wali Negeri.
Aparat tidak tinggal diam. Mahasiswa dan gerakan perubahan menjadi sasaran moncong tank. Harus diredam dan dibungkam. Meski yang harus dihadapi lebih banyak dibandingkan 12 tahun lalu. Agar tahta tak digoyahkan. Kelompok bandit terabaikan.
/*/
“Atas tindakan tepat Jangkung, ia dianugerahi kenaikan pangkat,” ucap Pemimpin Besar di depan satu kompi pasukan bandit di tengah hutan di kaki gunung yang dipenuhi mitos angker.
“Kita tidak boleh berkompromi dengan setan merah, setan biru, setan kuning, setan hijau. Juga dengan para pemujanya. Ingat garis perjuangan kita,” seru Pemimpin Besar berapi-api.
Pasukan bandit serentak meneriakkan sesuatu. Lantas bernyanyi. Dan teratur menuruni jalan setapak yang telah dikuasai luar kepala sehingga gelap tak berarti apa-apa. Mereka menuju kota secara terpisah. Mereka kembali kepada kehidupan di balik perilaku bandit.
Menjadi suami dan ayah. Menjadi buruh pabrik, buruh tani, office boy, pedagang asongan, pemulung, pengamen, supir angkot, tukang becak, tukang jahit, tukang ojek, tukang parkir. Menjadi orang baik-baik tanpa noda. Sampai serangan berikutnya kembali direncanakan. Usai gorogoro yang tak lagi mereka percayai sebagai tanda kedatangan Ratu Adil.
Huru-hara bukan awal kehidupan baru seperti yang dulu mereka yakini. Mereka tetap miskin dan terpinggirkan. Terabaikan dari peruntukan anggaran pendapatan dan belanja negara. Pergantian rezim tak membuat mereka sejahtera. Semua hanya sandiwara seperti yang diperankan Olga Syahputra.
/*/
Di permukiman kumuh tepi sungai keruh Jangkung gelisah di atas tempat tidur beralas kapuk busuk. Tubuhnya tak bisa diam. Berputar ke kiri dan ke kanan. Matanya sulit dipejamkan. Sesekali ia menghela nafas panjang.
Istrinya yang mengetahui kegelisahan itu bertanya.
“Pangkatku cuma dinaikkan satu tingkat,” keluh Jangkung.
“Pangkat?”
“Ah, bukan apa-apa, Dek,” Jangkung gugup. (*)
PS Tuan, September 2010
Oleh: https://www.facebook.com/bonoemiry
Tidak ada komentar:
Posting Komentar