Juminten menghapus nama Paino dari daftar nama yang ada di Hp-nya. Perasaannya campur aduk, antara sedih, bahagia dan dendam menyatu, mengkristal membentuk bongkahan batu yang siap dilontarkan ke dahi lelaki itu. Tapi itu sudah berlalu. Ketika muncul nama Parman, ia kembali merengut. Hm…yang ini juga harus kuhapus dari daftar nama di Hp-ku, dia banyak menyusahkan. Andai saja dia berkata jujur mengatakan belum beristri, mungkin aku akan memaafkannya. Sayang dia pembual.
Lalu gadis berwajah kemayu itu kembali mencari nama-nama yang pernah ia akrabi. Matanya tajam, setajam sinar mentari pagi yang menyoroti ubun-ubunnya. Tatapannya tertumbuk pada satu nama yang membuatnya merinding, meriang, dan membuat debar di dadanya meletup-letup. Jika laki-laki itu ada di hadapannya, ingin Juminten menusuk perut lelaki itu hingga ususnya terburai-burai.
***
Senja di tapal batas desa Legoksari, Juminten merapikan dagangan emaknya. Mereka membuka lapak pecel dadakan dan makanan ringan lainnya bila warga desa panen padi. Hari ini, Pak Kartono, orang yang termasuk kaya di desanya, memanen padi dari sawah yang luasnya hampir satu hektar. Hampir sebagian ibu-ibu di kampungnya dikerahkan untuk ikut ambil bagian, mereka akan memperoleh upah sepuluh kilo padi dan uang sebesar sepuluh ribu rupiah usai memanen. Upah yang lumayan buat ukuran desanya. Juminten ingin ikut, emaknya pun punya keinginan yang sama. Namun, sang emak mau sekalian jualan. Siapa tahu untungnya berlipat ganda, begitu pikirnya.
“Sudah habis dagangan Emakmu, Jum?” tanya Parjo, pemuda desa yang bekerja sebagai centeng pak Kartono.
Juminten melirik sekilas. Melihat kumis baplang Parjo yang melintang
mirip bulan sabit, membuat Juminten kesal bukan kepalang. Sudah berbulan-bulan pemuda tak tahu diri ini menggodanya. Dan Juminten berkali-kali pula tidak mengacuhkannya.
“Kamu kok tidak menyahut saat kutanya?”
“Apa urusanmu? Mau menyahut atau tidak, itu urusanku. Kok kamu repot sekali?” Ketus suara Juminten terdengar.
Parjo merah padam. Ia menyimpan rasa kesal di hatinya.
Senja semakin meredup, guratan merah bercampur oranye di langit, perlahan-lahan mulai beringsut berubah menjadi hitam keabu-abuan. Malam sebentar lagi turun. Satu-persatu penduduk desa Legoksari mulai meninggalkan sawah. Juminten mencari-cari wajah emaknya. Namun perempuan paruh baya itu seakan lenyap di balik rerimbunan pohon tebu yang tumbuh berselang-seling di areal persawahan. Gadis berwajah manis berusia enam belas tahun dengan tubuh mulai merekah, ranum dan padat itu, perlahan-lahan memasukkan dagangan ke dalam bakul rotan milik emaknya. Hampir seluruh makanan yang dijual emaknya ludes terbeli. Yang tersisa hanya beberapa ketupat dan sedikit sayuran, makanan itu akan dibawanya pulang untuk makan malam dia, Yudi adiknya, emak dan bapaknya.
Perasaan Juminten mulai was-was. Waktu hampir menujukkan pukul enam sore, Juminten gelisah emaknya belum juga tiba. Tadi emak hanya bilang akan pergi beberapa menit saja untuk mengambil sepuluh kilo gabah dan upah hari itu yang dijanjikan pak Kartono. Namun beberapa menit berlalu, sang emak belum juga tiba. Juminten cemas. Ia tak bisa meninggalkan emaknya begitu saja. Perlahan, gadis berwajah khas Jawa ini berjalan menyusuri pematang menuju ke tempat pembagian gabah. Tiba di sana, ia terkejut, keadaan amat sepi. Para ibu pemetik padi sudah tak terlihat. Lalu, di mana emaknya? Juminten berdebar, kemudian dengan suara lantang ia berseru memanggil nama emaknya. Suaranya bergema di seputar persawahan. Berkali-kali gema suara gadis itu terdengar susul menyusul. Hingga akhirnya, sebuah tangan kokoh, kuat bersarung tangan dari kulit membekap mulutnya. Dan Juminten dalam sekejap tidak sadarkan diri.
***
“Jangan katakan ini yang terakhir kalinya. Kalau tidak, kau mau menerima tamparanku lagi?” Parjo memandangi bibir yang penuh darah itu tanpa rasa iba sedikit pun. Perempuan yang sebagian wajahnya membiru itu, menghapus bekas darah dengan punggung tangannya. Sikapnya penuh kesan menantang, sorot kebencian terpancar kuat dari matanya.
“Heh, sekali lagi kukatakan, jangan kau pelototi aku seperti itu. Malam ini kau harus menjalankan tugasmu!” ujar Parjo dengan urat-urat menonjol di lehernya.
Juminten membisu. Di luar kamar hotel kelas melati itu, seorang pria bertubuh gempal berambut cepak, berdehem beberapa kali. Selanjutnya ia mengetuk pintu kamar itu dengan keras. “Kenapa lama sekali?” tanyanya. “Kalau tidak, kudobrak kamar ini!”
“Cepat, hapus bekas darah yang ada di bibirmu itu. Ambil bedak sana, tutupi wajahmu yang membiru!”
Juminten berdiri. Dengkulnya lemas, matanya berkunang-kunang. Ia hampir saja jatuh. Ketika pria berambut cepak itu masuk ke kamar tempatnya menginap, padangannya kabur, selanjutnya ia tak ingat apa-apa lagi. Malam yang laknat penuh onak dan duri, hampir seluruhnya berwajah kelam. Guratan hitam yang menaungi jalinan hidup Juminten ke depannya, membuat gadis itu seolah tak berharga lagi. Ia bagai hidup di titik nol. Hilang sudah semua kebanggaan masa remaja yang pernah dimilikinya. Parjo merampasnya tanpa sisa. Batang-batang pohon tebu menjadi saksi betapa di balik bulir-bulir tanaman padi yang kosong itu, kemanusiaan Juminten dirampas dengan beringas oleh lelaki yang dikenalnya sejak ia masih kecil. Tanpa belas kasihan, laki-laki itu mengoyak, menghujamkan derita yang amat pahit baginya. Juminten meradang, ia menangis dan terus menangis. Namun nista itu telah membelengu seluruh ruang geraknya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Parjo telah menguasainya.
***
Peristiwa pahit itu terus membayang. Pematang sawah yang sepi, di antara sisa-sisa pohon padi, Parjo membekap mulut Juminten. Gadis dengan tubuh ranum itu tak bisa berkutik ketika tinju yang kuat dari kepalan tangan Parjo melayang ke wajahnya. Senja menjelang malam yang sunyi, di tengah teriakan tikus-tikus sawah dan bunyi jengkerik serta kodok, Parjo melaksanakan niat busuknya. Pada malam jahanam itu, Juminten merasakan kesakitan yang luar biasa, laki-laki itu mengubah dirinya menjadi perempuan tak bermakna. Ia kehilangan segalanya, ia kehilangan kegadisan yang baru dijalaninya selama beberapa tahun. Parjo merampas semuanya tanpa sisa, ia merampasnya dengan penuh paksaan.
“Kau sudah jadi miliku, jika kau berkoar-koar di desamu, maka nyawamu akan lenyap dari muka bumi ini. Awas, jangan adukan semua ini pada Ibumu, juga pada keluargamu yang lain!” ancam laki-laki bertubuh gempal itu.
Juminten meradang. Sejak itu perputaran hidupnya dikuasai Parjo. Ketika emaknya kebingungan melihat sang puteri pamitan hendak ke kota, perempuan tua ini tak punya kekuatan apa-apa lagi untuk melarangnya. Satu-satunya alasan yang masuk di akalnya adalah, tatkala Juminten berkata, “Mak, aku akan bekerja di kota. Setiap bulan Emak akan kukirimi uang. Emak nanti bisa membeli kalung cincin, anting-anting dan gigi emas.” Janji itu memang ditepati. Tapi emaknya tetap tidak mengerti darimana Juminten memeroleh uang.
***
Seminggu setelah hasil pemerikasaan laboratorium itu keluar, Juminten duduk melamun di kamarnya yang sempit. Sebuah lagu berirama dangdut yang dinyanyikan Iis Dahlia, keluar dari tape kecil yang ada di sudut ruangan, mengiringi lamunannya yang merambah entah kemana. Kemarin Parjo datang lagi, dengan ancaman ia berkata, “Besok ada tauke China yang hendak mengontrakmu selama seminggu. Dia bayar mahal karena kubilang kau masih perawan. Ingat, jangan cerita apa-apa pada tauke China itu. Dan ingat sekali lagi, uang yang dibayarnya padamu, harus kau serahkan seutuhnya. Nanti aku yang akan membagikannya padamu. Aku tahu jika kau catut! Tauke itu sudah memberitahuku jumlah uang yang akan dibayarkannya padamu. Jangan kecewakan dia, berikan servis yang memuaskan. Hasil operasian dokter bedah plastik untuk menjadikan kau perawan lagi, sudah kering, kan? Aku yakin sudah. Kau tak perlu ragu, kini kau memang perawan ting-ting lagi. Nanti, gigi Ibumu bisa kau tambal semuanya dengan emas biar semakin bersinar!”
Gigi Juminten gemelutuk. Dendam kesumat kini kian memenuhi hampir seluruh bagian tubuhnya. Sesungguhnya ia tak mau lagi melayani siapa pun malam ini atau malam-malam yang akan datang. Tak ada operasi selaput dara seperti yang diinginkan Parjo, semua terhapus oleh hasil pemeriksaan laboratorium di puskemas terdekat tatkala ia merasa tubuhnya demam tinggi.
“Anda terinfeksi HIV. Belum ada obat yang ampuh untuk menyembuhkan penyakit ini. Lambat laun, kekebalan dalam tubuh anda akan hilang. Anda akan menderita AIDS. Anda tahu apa itu AIDS?” tanya dokter puskesmas yang memeriksanya.
“Pernah mendengarnya, penyakit itu secara perlahan bisa membuat seseorang meninggal.” Jawab Juminten.
“Ya, dan penularannya bisa didapatkan melalui hubungan seksual dan jarum suntik. Mulai sekarang, berhentilah dari pekerjaan Anda, jangan menularkan penyakit ini ke orang lain. Kembalilah ke jalan yang benar, dekatlah dengan Tuhan, bertobatlah, atau kalau kau masih mau menjalankan pekerjaanmu, gunakan kondom!” saran sang dokter.
Juminten termenung.
“Ingat, jangan lupa nanti malam. Nih uang untukmu malam ini!” Parjo melemparkan beberapa lembar lima puluh ribuan. Ia meninggalkan kamar Juminten tanpa senyum.
Akankah kutularkan penyakit ini pada Tauke tua yang tak bersalah itu? Juminten bertanya dalam hati. Jarum jam berdetak semakin cepat. Begitu juga jantungnya. Gelap malam akan segera turun. Tauke itu akan mengetuk pintu kamarnya, lalu membawa ia ke mobil, mengajaknya ke sebuah hotel berbintang satu, dua, tiga, empat atau lima. Di sana akan ia tularkan seluruh bongkahan virus-virus HIV pada sang Tauke. Gemuruh di dada Juminten bertalu-talu. Ia dengan cepat menyusun alasan yang pasti agar malam ini, bencana itu tidak terjadi. Dan untungnya Tauke ini mau menerimanya.
“Hayaa…tak apa-apalah…tak apa apalah…tiga atau empat hali Oe tunggu. Yang penting elu masih pelawan…” katanya. Sang tauke bagai melihat seorang budak belian pada Juminten. Ia memandang gadis desa itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, seakan-akan hendak melahapnya hidup-hidup.
Juminten menunduk. Rona wajahnya memerah, ia bagai gadis hijau yang baru pertama bertemu lelaki. Sesungguhnya, bukan itu yang ada di benaknya. Gabungan perasaan dendam, terhina dan tak bermartabat, membucah di dadanya. Semua itu harus ia akhiri malam ini. Ya, malam saat ia menunggu kedatangan Parjo ke kamar kontrakannya.
“Lho, mengapa kamu nggak jadi melayani itu Tauke? Kamu tahu dia sudah menyiapkan uang banyak? Hah, kamu ini tolol sekali Jum. Kalau dia pergi begaimana?”
“Dia janji mau datang tiga hari lagi.”
“Jum…Jum…iya kalau dia datang. Kalau tidak? Huh, kamu memang benar-benar tak tahu diuntung. Kamu bohong, kan bilang sedang menstruasi padanya?”
“Iya. Aku lagi malas saja melayani kakek-kakek!”
“Apa? Plak!” tangan Parjo melayang mengenai pipi Juminten. Gadis itu terjengkang ke belakang. Juminten ingin mejelaskan semuanya pada laki-laki itu. Tapi diurungkannya niatnya. Kemudian, dengan menahan sakit ia berusaha berdiri. Tapi Parjo kembali menendangnya. Dan untuk kedua kalinya gadis itu terjengkang.
“Ingat, jangan sekali-sekali kamu berani melawanku. Hidupmu ada di tanganku. Kamu tidak punya hak lagi atas tubuhmu. Setiap inci dari tubuhmu adalah milikku. Ingat milikku! Besok kamu layani Tauke itu. Tidak ada alasan lagi!” bentak Parjo.
“Aku tidak mau!”
Parjo terdiam. Ia memandang Juminten dingin. Wajahnya yang garang berubah mirip pembunuh sadis yang tak memiliki belas kasihan. Maka sebelum Parjo memukulnya lagi, Juminten telah siaga. Malam itu, bulan berwarna merah saga. Kamar Juminten penuh darah. Di seprai, di bantal, di kasur, di lantai, semuanya berwarna merah. Juminten menatap nanar semuanya. Ya, semua potongan tubuh parjo telah disusunnya dengan rapi di dalam sebuah kardus bekas pembungkus televisi yang dibelinya beberapa waktu yang lalu.
Tiga hari kemudian, ketika Tauke itu datang ke kamar kontrakannya, Juminten menemuinya dengan sopan. “Maaf, Tauke, saya tidak bisa melayani Tauke. Saya…”
“Hayaaa…apa lagi ini, lu sakit lagi?”
“Iya Tauke…“
“Hayaa sakit apa?”
“AIDS!”
Sang Tauke langsung pucat.
Juminten tersenyum. Ia keluar dari kamar kontrakannya, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh sebuah kardus besar. Di perjalanan, ketika bis yang ditumpanginya melewati sebuah jembatan gantung, ia meminta kenek bis untuk membuang kardus itu ke jurang yang ada di bawahnya.
“Isinya kardus ini apa, Mbak?” tanya si kenek.
“Isinya? Segala hal yang jahat!”
Bis melaju dengan kecepatan sedang. Juminten menatap Hp-nya, kemudian menghapus nama Parjo yang tertera di situ. Selesai sudah…gumamnya lega. Matanya memandang ke luar jendela, memandang hamparan sawah yang membentang luas. Lamat-lamat, ia melihat siluet tubuh ibunya. Perempuan itu melambai-lambaikan tangannya. Mata Juminten kian kabur. Ketika siluet itu lenyap, matanya terkatup rapat, di sudut mata mengambang titik-titik air mata yang siap jatuh ke pipi. Juminten menarik nafas, Ibu maafkan aku, desahnya terbata-bata…
Depok, Desember Gerimis 2010
(Pernah Dimuat di Bali Post)
Oleh: Fanny Jonathans Poyk (https://www.facebook.com/fannyjonathans.poyk )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar