*Catatan seorang muda, yang bermimpi menjadi tua.
Wah, apa memang harus begini. Orang yang lebih tua harus memberikan tuladha, contoh yang terlihat baik di mata yang lebih muda. Lhadalah, betapa merananya diri ini kalau begitu adanya. Saya benar-benar ndak bisa kalau disuruh jadi orang munafik. Sungguh, dari dulu watak saya ya memang seperti ini. Mau dirubah kayak gimana, ya jadinya tetep kembali ke asalnya. Dan jika suatu saat nanti pemerintah membuat undang-undang perihal orang tua yang baik, ya terpaksa saya kudu ngungsi ke luar negeri. Ke negeri yang mau menerima saya apa adanya. Lha iya to, ini masalahnya pada HAM, je.
Masalah dana ke luar negeri bisa dicari nanti. Yang penting hak dan kebebasan saya sebagai orangtua, haruslah terselamatkan terlebih dahulu. Lha kok penak tenan jadi anak muda. Bisanya cuma meniru para tetua. Iya kalau orangtua itu baik, pantas ditiru lan digugu. Lha kalau seperti yang di tipi-tipi itu gimana coba? Yang lehernya dibanduli hiasan itu lho. Mereka emang ndak tahu malu, apa memang bloon, ya? Sudah ketahuan nguntal uang rakyat begitu banyak, e lha kok masih bisa-bisanya plecam-plecem di hadapan kamera, kayak ndak punya dosa saja.
Eh, tiba-tiba saya jadi teringat dengan si Mitro, karib sewaktu SMA dulu. Dia itu perokok aktif sejak dulu. Tapi sekarang dia dilarang merokok oleh anak-anaknya, dengan alasan melihat kesehatan bapaknya, dan lain sebagainya, “Lha iya mesti jadi tekanan, to?” Kata Mitro saat itu, pas kita jumpa dalam acara reuni akbar beberapa hari yang lalu.
Saat dua hari berselang, setelah acara reuni akbar itu, saya sempat nguping, atau tepatnya, tidak sengaja mendengar percakapan antara tukang cukur dengan pelanggannya. Mereka sok-sok kritis membahas soal negara. Soal politik dan tetek-bengeknya. Tapi saya pun cukup terkesan dengan pikiran-pikiran mereka, perihal kritiknya pada negara. Dan saya pun tak mau kalah untuk mempunyai rumusan sendiri.
Pendapat saya sebagai seorang tua yang sedikit waton dalam hal berbicara, menilai bahwa pemerintah saat ini memang semakin aneh-aneh saja dalam membuat aturan. Mosok si menteri siapa itu namanya, saya agak lupa, dia mempunyai rencana membuat peraturan perihal kurikulum anti tawur. Lha itu apa namanya kalau bukan neko-neko? Kurikulum kok anti tawur? Ha-ha-ha. Apa memang sudah tidak ada lagi masalah yang lain? Tawuran kok dibuat kurikulum? Toh jika mereka duduk di kelas satu SMA saat ini, dua tahun lagi mereka ndak bakal tawuran lagi. Ya, kita sama-sama tahu sajalah, mereka kan masih bisa dikatakan ababil, alias ABG labil. Anak ingusan, he-he-he. Mereka itu kan masih mencari jati dirinya, ya wajar saja kalau seperti itu. Seharusnya moralitaslah yang dibangun. Bukan kurikulum soal itu. Aneh-aneh saja, to. Wah, malah jadi ikut-ikutan budrek kepala saya ini.
Ada lagi, dulu sempat ada wacana di negeri yang membuat saya begitu ngakak ini. Sampai-sampai saya tersedak dan rasanya mau modar saja. Mosok ada wacana perihal tes perawan bagi para pelajar wanita? Bukankah itu namanya kurang ajar?! Lha kalau begitu caranya, saya mau-mau saja jadi dokternya, dokter weleh-weleh. Waduh, semakin repot saja negara ini. Ngurusi kok urusan yang kurang penting. Lha kalau perawan itu kan masalah pribadi. Kenapa pemerintah kudu ikut campur tangan. Biarkan saja para gadis memilih jalannya sendiri. Menjadi perawan atau tidak, ya itu semua kembali pada urusan pribadi masing-masing. Biarkan saja. Toh, kalau sampean tahu, olahraga juga bisa membuat selaput dara menjadi sobek lho. Perawan bukan masalah yang harus ditanggulangi oleh pemerintah. Hanya saja, pemerintah seharusnya memberi pengawasan. Cari cara yang lain kek, biar ndak banyak anak-anak lahir dari plembungan bocor. Lha piye jal? Plembungan bekas saja, diimport dari luar negeri. Masak buat plembungan saja harus minta yang bekas? Ya ampun, kok begitu kerenya negara ini.
Ada lagi, itu lho, menteri yang kerjanya cuma ngomong bolong. Dia membuat buku-buku ndak jelas, yang sekarang banyak terpampang di etalase toko-toko buku. Apa para penerus bangsa butuh sosok seperti sampean? Mbok ya sadar diri saja. Jangan sok dibutuhkan dan sok bisa jadi panutan begitu. Membuat buku tentang kehidupan pribadi, menurut saya sih bisa dikarang dan dibagus-bagusin sesuai dengan kebutuhan. He-he-he. Coba lihat saja sampul pada buku itu. Dia dengan begitu pedenya, mrejeng di halaman sampul. Sudah jelas dan bisa dipastikan, semua itu hanya demi kepentingan pribadi juga. Lha wong urusan negara saja belum kelar, kok bisa-bisanya sudah ngurusi urusan yang lain. Nyicil promo buat jadi Presiden to, Pak? Lhadalah, ngelus dada ndhisik.
Wah, hampir lupa aku mengatakannya. Masih ada lagi, lho. Mosok segala tindakan baik yang dilakukan pak menteri itu, kok senantiasa disorot oleh kamera, ya? Itu secara kebetulan saja, atau emang sudah direncanakan? Ah, ndak tahulah. Malah tambah mumet jika aku ikut mikir negara yang sudah terlanjur amburadul ini. Ha-ha-ha. Tapi apa ya tumon, kalau menteri kerjaannya caper kayak begitu?
*
Urusan orangtua seperti diriku ini memang selalu njlimet. Pantas saja teman-teman seusiaku lebih memilih untuk menjadi pikun. Lari dari kenyataan hidup yang ada. Ya mungkin itu semua karena tekanan-tekanan yang ada. Bisa jadi karena tekanan dari dalam keluarga mereka sendiri, atau urusan apalah, aku juga ndak paham. Kalau saya sendiri sih santai. Hidup sekali ya dibikin hepi saja. Yang saya ketahui, banyak teman-teman seusiaku memilih untuk menjadi anak kecil lagi. Mungkin saja mereka kangen, pengin dimong, alias dimomong oleh pengasuhnya dulu. Bisa saja oleh orang tua mereka, pembantu, atau istri yang telah mendahuluinya.
Mengenai pengin dimong, hal itulah yang membuat saya menjadi seorang yang munafik saat ini. Atau, lebih tepatnya dipaksa untuk menjadi munafik. Sebenarnya saya juga rindu pada masa-masa itu. saya pun benar-benar ingin dia kembali dalam dekapanku...
Di usia saya yang telah berada di kepala tujuh ini, apakah tabu, jika saya masih mempunyai sebuah hasrat? Ya setidak-tidaknya hasrat untuk memberikan kasih sayang dan untuk berbagi. Jujur saja, saya memang belum bisa melupakan almarhum istri saya. Tapi bagaimana lagi, lha wong dia sudah meninggalkan saya terlebih dahulu. Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih baik, dan saya meyakini itu kok. Biarkan saja dia tenang di sana.
Pernah suatu saat, saya berpikiran untuk kawin lagi. Kali ini dengan Lestari. Seorang janda yang ditinggal suaminya pergi entah ke mana. Dasar pria bejat, batinku. Tidak pernah mencoba untuk setia mengasihi anugrah yang diberikan Tuhan padanya.
Satu minggu yang lalu, saya pernah meminta pendapat dari anak pertama saya. Saya tanyakan padanya tentang rencana saya yang ingin kawin lagi dengan Lestari. Pesan singkat melalui handphone telah saya kirimkan kepadanya. Tapi dia begitu kejam. Dia memang menjawab unek-unek yang saya sampaikan padanya, akan tetapi, jawaban itu berlawanan dari harapan yang saya bayangkan. Dia tidak memperkenankan saya untuk kawin lagi. Malah dia bilang, “Bapak niku sampun sepuh. Eling, pak, eling.” Bukankah itu menyakitkan? Saya benar-benar sadar dengan keyakinan saya untuk kawin lagi. Ya, meskipun saya sudah kempot dan tidak sekuat dulu, tapi setidaknya saya hanya ingin berbagi kasih dengan seorang yang saya cintai. Saya bosan hidup di rumah ini sendiri. Masak saya terus-terusan harus hidup dengan Karjo dan Minten, pembantu saya. Lantas anak-anak yang dulu selalu ndepel pada ketiak saya, sekarang berada di mana? Kalian saja tidak memperdulikan bapakmu ini, kok dengan tegas melarang bapakmu untuk kawin lagi. Bapak juga butuh kasih sayang, Le.
Ah, ya, apa boleh buat. Menjadi tua itu memang rekoso. Kudu gelem nrimo. Semua ini memang risiko menjadi tua. Apa-apa tidak diperbolehkan. Untuk bekerja, misalnya. Mereka mempunyai seribu alasan, tetek bengeklah pokoknya. Entah itu kesehatan sayalah, atau apasaja bisa dijadikan alasan untuk menjadikan saya menjadi patung. Ya, memang inilah hidup. Tidak dipungkiri kita pun harus menjadi tua dan tiada arti.
*
Memang saya merasa begitu bahagia, tapi itu dulu, ketika saya masih berusia empatpuluh tahunan. Ya, seperti anakku saat ini. Pada usia itu, anakku mempunyai seorang anak. Ya hampir mirip seperti saat inilah. Begitu ramai, keluarga ngumpul, nonton televisi bersama. Saya dengan kedua orangtua, menantu, dan tentunya kelembutan kasih yang diberikan oleh kekasihku dulu. Tapi kini, semua telah raib dimakan waktu.
Dia telah tiada sejak tiga tahun yang lalu. Seringkali saya masih merindukan belaian hangat dari kekasihku itu. Dan saat ini, saya hanya bahagia jika melihat rombongan anak-anak, menantu, beserta cucu-cucu yang mulai datang sowan ke rumah saya. Itupun hanya setahun sekali mereka datang. Selepas itu, rumah mulai sepi kembali. Hanya ada Karjo dan Minten yang melayani kehidupan saya. Sungguh, jika sudah tua, payah, dan sendiri seperti ini, rasanya saya ingin cepat-cepat dipanggil olehNya saja. Biar saya cepat berjumpa dengan istri saya lagi, dan mengawasi anak-cucu saya dari atas sana. Ya, beginilah hidup seorang tua.
Jika senja tiba, saya hanya menghabiskan waktu di atas kursi goyang. Sambil menikmati teh hangat bikinan Minten. Ya, enak nggak enak ya tetep enak. Lha wong sebenarnya saya itu sukanya kopi kok. Mau bagaimana lagi? Lha wong sekarang saya sudah diajarkan untuk menjadi munafik. Masalah HAM, saya pun sudah mulai lupa. Tidak ada HAM bagi seorang tua seperti saya ini. Lha anak saya sendiri saja tidak memberi kebebasan untuk saya. Ya, entahlah. Toh, kita sebagai manusia hanya bisa nderek prosedur yang telah ditetapkan Gusti ingkang Maha Agung.
Setidaknya, saya masih bisa mendengar suara burung perkutut saja sudah alhamdullilah. Burung itu sedikit memberikan rasa tentram dalam sanubari. Hur ketekuk, hur ketekuk, hur ketekuk. Kadang saya hanya tersenyum sendiri di teras rumah. Mengenang kejayaan masa lalu yang indah, dan rasanya begitu kangen dengan masa-masa itu.
Lhadalah, aku pun tak sadar jikalau usiaku sudah menginjak kepala tujuh. Lebih dua bahkan, ha-ha-ha. Wis, benar-benar sudah sepuh saya ini. Sebenarnya saya juga sering merasa rikuh-pekewuh, ndak enak di hati kalau meminta anakku untuk merestui hubungan saya dengan Lestari. Tapi ya mau bagaimana lagi. Lha wong saya benar-benar merasa mendapat kasih sayang juga darinya kok. Apakah memang kodrat seorang tua tidak boleh saling mencintai dan memberikan rasa kasih? Apakah HAM menjadi hilang, jika yang bersangkutan telah menjadi tua? Ah, saya terlalu empet. Sudah bosan dengan urusan dunia yang dedel-duel seperti ini. Lebih baik saya tidur dan berharap tidak bisa bangun lagi besok pagi....
*
“Asmuni, Asmuni? Tangi, Le.”
“Hmm. Ada apa to, Bu?”
“Iki uwis esuk, Le, gek tangia, ewangi bapakmu kae marut kelapa. Ngger, cah bagus, tangi, Le.”
Haaaheeem. Ternyata aku hanya bermimpi jadi seorang tua, to? Lhadalah, apa ini gara-gara aku keseringan berpikir, bahwa HAM di masa kecil itu ndak ada artinya? Pendapat saya perihal politik memang tidak pernah digubris oleh mereka para orangtua. Kata mereka, “tahu apa kamu soal politik? Bayi lagi wingi sore wae wis ngomong soal politik.” Lhah, ternyata menjadi tua pun HAM juga tiada artinya....
Drajat Teguh Jatmiko..
Prambanan, 11-11-2012, 07:30
https://www.facebook.com/drajat.teguhjatmiko
Wah, apa memang harus begini. Orang yang lebih tua harus memberikan tuladha, contoh yang terlihat baik di mata yang lebih muda. Lhadalah, betapa merananya diri ini kalau begitu adanya. Saya benar-benar ndak bisa kalau disuruh jadi orang munafik. Sungguh, dari dulu watak saya ya memang seperti ini. Mau dirubah kayak gimana, ya jadinya tetep kembali ke asalnya. Dan jika suatu saat nanti pemerintah membuat undang-undang perihal orang tua yang baik, ya terpaksa saya kudu ngungsi ke luar negeri. Ke negeri yang mau menerima saya apa adanya. Lha iya to, ini masalahnya pada HAM, je.
Masalah dana ke luar negeri bisa dicari nanti. Yang penting hak dan kebebasan saya sebagai orangtua, haruslah terselamatkan terlebih dahulu. Lha kok penak tenan jadi anak muda. Bisanya cuma meniru para tetua. Iya kalau orangtua itu baik, pantas ditiru lan digugu. Lha kalau seperti yang di tipi-tipi itu gimana coba? Yang lehernya dibanduli hiasan itu lho. Mereka emang ndak tahu malu, apa memang bloon, ya? Sudah ketahuan nguntal uang rakyat begitu banyak, e lha kok masih bisa-bisanya plecam-plecem di hadapan kamera, kayak ndak punya dosa saja.
Eh, tiba-tiba saya jadi teringat dengan si Mitro, karib sewaktu SMA dulu. Dia itu perokok aktif sejak dulu. Tapi sekarang dia dilarang merokok oleh anak-anaknya, dengan alasan melihat kesehatan bapaknya, dan lain sebagainya, “Lha iya mesti jadi tekanan, to?” Kata Mitro saat itu, pas kita jumpa dalam acara reuni akbar beberapa hari yang lalu.
Saat dua hari berselang, setelah acara reuni akbar itu, saya sempat nguping, atau tepatnya, tidak sengaja mendengar percakapan antara tukang cukur dengan pelanggannya. Mereka sok-sok kritis membahas soal negara. Soal politik dan tetek-bengeknya. Tapi saya pun cukup terkesan dengan pikiran-pikiran mereka, perihal kritiknya pada negara. Dan saya pun tak mau kalah untuk mempunyai rumusan sendiri.
Pendapat saya sebagai seorang tua yang sedikit waton dalam hal berbicara, menilai bahwa pemerintah saat ini memang semakin aneh-aneh saja dalam membuat aturan. Mosok si menteri siapa itu namanya, saya agak lupa, dia mempunyai rencana membuat peraturan perihal kurikulum anti tawur. Lha itu apa namanya kalau bukan neko-neko? Kurikulum kok anti tawur? Ha-ha-ha. Apa memang sudah tidak ada lagi masalah yang lain? Tawuran kok dibuat kurikulum? Toh jika mereka duduk di kelas satu SMA saat ini, dua tahun lagi mereka ndak bakal tawuran lagi. Ya, kita sama-sama tahu sajalah, mereka kan masih bisa dikatakan ababil, alias ABG labil. Anak ingusan, he-he-he. Mereka itu kan masih mencari jati dirinya, ya wajar saja kalau seperti itu. Seharusnya moralitaslah yang dibangun. Bukan kurikulum soal itu. Aneh-aneh saja, to. Wah, malah jadi ikut-ikutan budrek kepala saya ini.
Ada lagi, dulu sempat ada wacana di negeri yang membuat saya begitu ngakak ini. Sampai-sampai saya tersedak dan rasanya mau modar saja. Mosok ada wacana perihal tes perawan bagi para pelajar wanita? Bukankah itu namanya kurang ajar?! Lha kalau begitu caranya, saya mau-mau saja jadi dokternya, dokter weleh-weleh. Waduh, semakin repot saja negara ini. Ngurusi kok urusan yang kurang penting. Lha kalau perawan itu kan masalah pribadi. Kenapa pemerintah kudu ikut campur tangan. Biarkan saja para gadis memilih jalannya sendiri. Menjadi perawan atau tidak, ya itu semua kembali pada urusan pribadi masing-masing. Biarkan saja. Toh, kalau sampean tahu, olahraga juga bisa membuat selaput dara menjadi sobek lho. Perawan bukan masalah yang harus ditanggulangi oleh pemerintah. Hanya saja, pemerintah seharusnya memberi pengawasan. Cari cara yang lain kek, biar ndak banyak anak-anak lahir dari plembungan bocor. Lha piye jal? Plembungan bekas saja, diimport dari luar negeri. Masak buat plembungan saja harus minta yang bekas? Ya ampun, kok begitu kerenya negara ini.
Ada lagi, itu lho, menteri yang kerjanya cuma ngomong bolong. Dia membuat buku-buku ndak jelas, yang sekarang banyak terpampang di etalase toko-toko buku. Apa para penerus bangsa butuh sosok seperti sampean? Mbok ya sadar diri saja. Jangan sok dibutuhkan dan sok bisa jadi panutan begitu. Membuat buku tentang kehidupan pribadi, menurut saya sih bisa dikarang dan dibagus-bagusin sesuai dengan kebutuhan. He-he-he. Coba lihat saja sampul pada buku itu. Dia dengan begitu pedenya, mrejeng di halaman sampul. Sudah jelas dan bisa dipastikan, semua itu hanya demi kepentingan pribadi juga. Lha wong urusan negara saja belum kelar, kok bisa-bisanya sudah ngurusi urusan yang lain. Nyicil promo buat jadi Presiden to, Pak? Lhadalah, ngelus dada ndhisik.
Wah, hampir lupa aku mengatakannya. Masih ada lagi, lho. Mosok segala tindakan baik yang dilakukan pak menteri itu, kok senantiasa disorot oleh kamera, ya? Itu secara kebetulan saja, atau emang sudah direncanakan? Ah, ndak tahulah. Malah tambah mumet jika aku ikut mikir negara yang sudah terlanjur amburadul ini. Ha-ha-ha. Tapi apa ya tumon, kalau menteri kerjaannya caper kayak begitu?
*
Urusan orangtua seperti diriku ini memang selalu njlimet. Pantas saja teman-teman seusiaku lebih memilih untuk menjadi pikun. Lari dari kenyataan hidup yang ada. Ya mungkin itu semua karena tekanan-tekanan yang ada. Bisa jadi karena tekanan dari dalam keluarga mereka sendiri, atau urusan apalah, aku juga ndak paham. Kalau saya sendiri sih santai. Hidup sekali ya dibikin hepi saja. Yang saya ketahui, banyak teman-teman seusiaku memilih untuk menjadi anak kecil lagi. Mungkin saja mereka kangen, pengin dimong, alias dimomong oleh pengasuhnya dulu. Bisa saja oleh orang tua mereka, pembantu, atau istri yang telah mendahuluinya.
Mengenai pengin dimong, hal itulah yang membuat saya menjadi seorang yang munafik saat ini. Atau, lebih tepatnya dipaksa untuk menjadi munafik. Sebenarnya saya juga rindu pada masa-masa itu. saya pun benar-benar ingin dia kembali dalam dekapanku...
Di usia saya yang telah berada di kepala tujuh ini, apakah tabu, jika saya masih mempunyai sebuah hasrat? Ya setidak-tidaknya hasrat untuk memberikan kasih sayang dan untuk berbagi. Jujur saja, saya memang belum bisa melupakan almarhum istri saya. Tapi bagaimana lagi, lha wong dia sudah meninggalkan saya terlebih dahulu. Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih baik, dan saya meyakini itu kok. Biarkan saja dia tenang di sana.
Pernah suatu saat, saya berpikiran untuk kawin lagi. Kali ini dengan Lestari. Seorang janda yang ditinggal suaminya pergi entah ke mana. Dasar pria bejat, batinku. Tidak pernah mencoba untuk setia mengasihi anugrah yang diberikan Tuhan padanya.
Satu minggu yang lalu, saya pernah meminta pendapat dari anak pertama saya. Saya tanyakan padanya tentang rencana saya yang ingin kawin lagi dengan Lestari. Pesan singkat melalui handphone telah saya kirimkan kepadanya. Tapi dia begitu kejam. Dia memang menjawab unek-unek yang saya sampaikan padanya, akan tetapi, jawaban itu berlawanan dari harapan yang saya bayangkan. Dia tidak memperkenankan saya untuk kawin lagi. Malah dia bilang, “Bapak niku sampun sepuh. Eling, pak, eling.” Bukankah itu menyakitkan? Saya benar-benar sadar dengan keyakinan saya untuk kawin lagi. Ya, meskipun saya sudah kempot dan tidak sekuat dulu, tapi setidaknya saya hanya ingin berbagi kasih dengan seorang yang saya cintai. Saya bosan hidup di rumah ini sendiri. Masak saya terus-terusan harus hidup dengan Karjo dan Minten, pembantu saya. Lantas anak-anak yang dulu selalu ndepel pada ketiak saya, sekarang berada di mana? Kalian saja tidak memperdulikan bapakmu ini, kok dengan tegas melarang bapakmu untuk kawin lagi. Bapak juga butuh kasih sayang, Le.
Ah, ya, apa boleh buat. Menjadi tua itu memang rekoso. Kudu gelem nrimo. Semua ini memang risiko menjadi tua. Apa-apa tidak diperbolehkan. Untuk bekerja, misalnya. Mereka mempunyai seribu alasan, tetek bengeklah pokoknya. Entah itu kesehatan sayalah, atau apasaja bisa dijadikan alasan untuk menjadikan saya menjadi patung. Ya, memang inilah hidup. Tidak dipungkiri kita pun harus menjadi tua dan tiada arti.
*
Memang saya merasa begitu bahagia, tapi itu dulu, ketika saya masih berusia empatpuluh tahunan. Ya, seperti anakku saat ini. Pada usia itu, anakku mempunyai seorang anak. Ya hampir mirip seperti saat inilah. Begitu ramai, keluarga ngumpul, nonton televisi bersama. Saya dengan kedua orangtua, menantu, dan tentunya kelembutan kasih yang diberikan oleh kekasihku dulu. Tapi kini, semua telah raib dimakan waktu.
Dia telah tiada sejak tiga tahun yang lalu. Seringkali saya masih merindukan belaian hangat dari kekasihku itu. Dan saat ini, saya hanya bahagia jika melihat rombongan anak-anak, menantu, beserta cucu-cucu yang mulai datang sowan ke rumah saya. Itupun hanya setahun sekali mereka datang. Selepas itu, rumah mulai sepi kembali. Hanya ada Karjo dan Minten yang melayani kehidupan saya. Sungguh, jika sudah tua, payah, dan sendiri seperti ini, rasanya saya ingin cepat-cepat dipanggil olehNya saja. Biar saya cepat berjumpa dengan istri saya lagi, dan mengawasi anak-cucu saya dari atas sana. Ya, beginilah hidup seorang tua.
Jika senja tiba, saya hanya menghabiskan waktu di atas kursi goyang. Sambil menikmati teh hangat bikinan Minten. Ya, enak nggak enak ya tetep enak. Lha wong sebenarnya saya itu sukanya kopi kok. Mau bagaimana lagi? Lha wong sekarang saya sudah diajarkan untuk menjadi munafik. Masalah HAM, saya pun sudah mulai lupa. Tidak ada HAM bagi seorang tua seperti saya ini. Lha anak saya sendiri saja tidak memberi kebebasan untuk saya. Ya, entahlah. Toh, kita sebagai manusia hanya bisa nderek prosedur yang telah ditetapkan Gusti ingkang Maha Agung.
Setidaknya, saya masih bisa mendengar suara burung perkutut saja sudah alhamdullilah. Burung itu sedikit memberikan rasa tentram dalam sanubari. Hur ketekuk, hur ketekuk, hur ketekuk. Kadang saya hanya tersenyum sendiri di teras rumah. Mengenang kejayaan masa lalu yang indah, dan rasanya begitu kangen dengan masa-masa itu.
Lhadalah, aku pun tak sadar jikalau usiaku sudah menginjak kepala tujuh. Lebih dua bahkan, ha-ha-ha. Wis, benar-benar sudah sepuh saya ini. Sebenarnya saya juga sering merasa rikuh-pekewuh, ndak enak di hati kalau meminta anakku untuk merestui hubungan saya dengan Lestari. Tapi ya mau bagaimana lagi. Lha wong saya benar-benar merasa mendapat kasih sayang juga darinya kok. Apakah memang kodrat seorang tua tidak boleh saling mencintai dan memberikan rasa kasih? Apakah HAM menjadi hilang, jika yang bersangkutan telah menjadi tua? Ah, saya terlalu empet. Sudah bosan dengan urusan dunia yang dedel-duel seperti ini. Lebih baik saya tidur dan berharap tidak bisa bangun lagi besok pagi....
*
“Asmuni, Asmuni? Tangi, Le.”
“Hmm. Ada apa to, Bu?”
“Iki uwis esuk, Le, gek tangia, ewangi bapakmu kae marut kelapa. Ngger, cah bagus, tangi, Le.”
Haaaheeem. Ternyata aku hanya bermimpi jadi seorang tua, to? Lhadalah, apa ini gara-gara aku keseringan berpikir, bahwa HAM di masa kecil itu ndak ada artinya? Pendapat saya perihal politik memang tidak pernah digubris oleh mereka para orangtua. Kata mereka, “tahu apa kamu soal politik? Bayi lagi wingi sore wae wis ngomong soal politik.” Lhah, ternyata menjadi tua pun HAM juga tiada artinya....
Drajat Teguh Jatmiko..
Prambanan, 11-11-2012, 07:30
https://www.facebook.com/drajat.teguhjatmiko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar