English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate by Google ( UBLO 7 )

Kamis, 21 Februari 2013

Romantika Sendu, di Balik Wajah Senja.

Senja memang selalu menghadirkan sebuah kenangan. Di balik keindahan yang menyimpan semua itu, juga terselip segala bentuk kerinduan akan waktu yang berlalu. Senja adalah sebentuk cahaya keemasan yang menyimpan siluet—bayangan seorang yang kucintai. Dia adalah sosok wanita yang memberikan inspirasi dalam penulisan ceritaku akhir-akhir ini.

Di sini diceritakan dalam sebuah naskah cerita pendek; dia adalah seorang lelaki yang mencintai wanitanya. Dia bekerja sebagai penulis jalanan yang hidupnya dalam kembara. Tak pernah ada kepastian dalam hidupnya. Berjalan mengikuti angin yang akan membawanya kesuatu tempat, suatu saat nanti. Dan, kekasihnya, oh maaf, maksud saya calon kekasihnya, adalah seorang yang--menurut pendapat saya sendiri—kurang bisa menerima cinta dari si lelaki itu. Kemudian si penulis itu tak kehabisan cara untuk meluluhkan hati wanitanya. Dia mendapati cara; meminjam senja dari Tuhan, hanya untuk melihat senyum keikhlasan dari wanitanya. Sungguh malang nasibmu.

          Aku memohon maaf dengan sangat kepadamu. Jika aku telah lancang, mempunyai prasangka akan dirimu, atas kehendakmu untuk mempertahankan ketidaktahuanmu. Atau, kau ini hanya berselimut kepura-puraan saja? Pura-pura tidak pernah mengetahui tentang perasaan ini. Atau, memang kau tak mau tahu dengan semua ini?! Entahlah, cerita ini kubuat hanyalah sebagai gambaran kisah romantika sendu di balik kenangan senja. Antara aku dan kau, sayang.

          Suasana senja di Pantai kenangan.
          Masih kuingat betul keremangan senja yang begitu memikat. Yang membuatku jatuh hati dan menjadi cinta kepadanya. Di antara semak belukar tetumbuhan bakau, aku berdiri sendiri di sini, di pantai ini. Kuhirup asin aroma pantai, hingga bunyi telisik pasir yang tergesek telapak kaki. Burung-burung camar yang hendak kembali ke sarang, juga nyanyian pilu dedaunan dan reranting pohon yang ditinggal oleh indungnya, mentari. Hidup di sini sama halnya dengan menggali semua kenangan. Mengingat setiap kejadian yang dulu pernah terjadi.
          Di pantai ini. Akan kuhancurkan semua jam yang ada. Agar aku bisa berlama-lamaan, dan bercinta dengan senja kali ini. Senja yang kuyakini sebagai dirinya. Kupandangi lagi, langit senja dalam kesendirian, tidak ada dia di sini. Hanya aku, sendiri.
Putih pasir pantai, juga deru ombak lautan, menghantam cadas bebatuan karang. Lalu, sejenak kupasang kedua bola mataku, untuk kupandangi lingsai-lingsai pelangi seusai gerimis disiang hari. Dan, kudapati diriku, masih saja sendiri.

*
          Kupejamkan lagi mata, dan kuarahkan wajah ke arah cahaya, agar bisa kurengkuh senja yang paling indah, berhiaskan siluet wajahmu. Kudengar lagi sayup, debur ombak dan semilir angin. Seakan membisikkan kata-kata suci, serupa mantra puisi yang keluar dari tipis bibirmu. Dan, perlahan bisikan itu merayap di antara sela-sela bagian tubuhku, kemudian mengetuk pintu yang ada di dasar uluhati. Masih adakah kilau mata yang dulu kunantikan? Aku mbatin. Ombak lautan kian pasang, seiring keremangan yang kembali datang, menghapus siluet wajah dari senja yang dihempaskan cahaya. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu seperti kumencintai senja kali ini. Hah, kuhela nafas panjang. Dan, ah, tiba-tiba akupun terbangun dari khayalan yang telah sengaja kubangun. Sebuah khayalan tentang kisah lama yang dahulu pernah kita pahat. Membentuk relief, kisah antara dua anak manusia yang memadu kasih, kala senja datang di pantai ini. Saat itu kau bangun sebuah istana pasir di pantai ini. Dan, kutambahkan dua bentuk boneka, miniatur, yang kuanggap sebagai kita. Walau mungkin tak seindah boneka barby yang ada di etalase toko mainan.
          Kusadari, buih-buih ombak telah menyentuh telapak kaki. Kulihat jam di tangan, jarumnya telah menunjuk angka enam. Langit mulai petang. Burung-burung yang semula hinggap di blarak kelapa, kini mengepakkan sayap, terbang jauh, sebelum hilang di ujung barat, seiring dengan tenggelamnya surya di balik samudra.

II
          Aku memang sengaja menyewa sebuah losmen di tepi pantai berpasir putih ini, sendiri saja. Agar tak ada yang menggangguku untuk memanjakan ingatanku. Aku ingin menggali kembali bingkisan yang dulu pernah kita tanam di sini, di pantai ini. Kau ingat, sayang? Saat itu kau memberikan sebuah bingkisan untukku. Bingkisan berbentuk istana pasir yang cantik. Dan saat itu juga, kubalas dengan menghadirkan senja, yang kupinjam dari Tuhan, untuk mendapatkan senyum darimu. Tapi entahlah. Aku tak begitu peduli, apakah kau benar-benar tulus melebarkan pipi, dan memperlihatkan gigi kelincimu untukku. Yang terselip dalam benakku saat itu, hanyalah sebuah  keinginan untuk melihatmu tersenyum saat memandang kedua bola mataku dengan kedua bola matamu. Di sini, aku akan mencoba mengingat semua yang dulu pernah terjadi. Mengais kembali sisa-sisa bangunan berbentuk ingatan, yang sering kusebut sebagai: kenangan. Dahulu, di pinggiran sepanjang pantai ini, memang belum banyak dibangun rumah-rumah penginapan seperti sekarang ini. Tepatnya dua tahun yang lalu, diawal bulan september, pantai ini hanya milik kita berdua. Atau, mungkin saja, hanya kita yang menganggap bahwa kita hanya berdua di pantai ini, saat itu. Sayang, masih ingatkah engkau? Dahulu kita pernah duduk berdua di sini. Di atas batu besar ini. Menghadap ke barat, tepat memandang deburan ombak yang mengeluarkan bunyi kecipak, saat membentur batu karang di tepian pantai. Desir angin yang menyentuh bola-bola pasir, serta kering dedaunan yang terinjak, menghadirkan nuansa gaib yang dengan perlahan membentuk kristal-kristal embun. Tak kusangga pula, kristal-kristal embun itu berubah menjadi sebuah kesejukkan yang mengalir di titik terpeka dalam diri. Melekat. Rekat. Dan tiada sekat.

          Saat itu kulihat kau setia dalam lamunan, memandang jauh samudra luas. Kuambil langkah, kusatukan kedua telapak tanganku, membentuk cekungkan serupa gayung. Lalu kuciduk, asin air laut, dan kupercikkan tepat di wajahmu. Kaupun terlepas dari lamunanmu. Aku tersenyum memandangmu. Dan, masih ingatkah kau, sayang? Saat itu lidahmu sedikit kau julurkan hingga menyentuh percikan air yang tersisa di bibir bagian atas, di bawah hidungmu. Aku mencoba mengusap air yang tersisa di bibirmu, tapi kau malah mengambil langkah cepat, membungkukkan tubuhmu untuk mengambil asin air laut dengan tanganmu. Kau percikkan asin air laut untuk membalas, tepat di wajahku. Kita tersenyum dan tertawa bersama. Telah kita temukan kebersamaan di pantai ini. Kau berlari. Akupun mengejarmu. Kau terjatuh di atas pasir pantai. Aku menolongmu. Kau menarikku. Aku terjatuh tepat di atas tubuhmu. Kemudian hening... kedua mata kita saling memandang tiada jeda untuk berkedip. Jantung berdetak semakin memburu. Dan, pasir pantai pun telah beralih fungsi menjadi ranjang tempat kita membagi cerita cinta...
          Memang tak ada jam pasir yang membatasi waktu kita, kala itu. Namun, aku telah menangkap adanya kelelahan—dalam isyarat mata yang mulai bosan melihat—seonggok bara yang mulai redup di hadapanmu itu. Kuikuti gerakmu menegakkan tubuh yang terkulai. Dan kita mulai membersihkan butir-butir pasir yang melekat pada masing-masing pakaian yang kita kenakan. Aku mencoba, menyulut lagi bara yang ada dalam diriku, untuk sekedar hangatkan suasana yang jadi beku. Kutatap lagi matamu dalam-dalam, lalu kudaratkan kecupan hangat tepat di keningmu. Seraut wajah cerah, memerah dan tertunduk. Aku mulai menuntun langkah kakimu dengan jabat erat tanganku. Kuajak kau untuk duduk di atas bebatuan karang yang berjajar lebih dari separuh garis pantai. Mungkin, kali ini kita benar-benar menghentikan waktu. Di antara lingsai-lingsai pelangi, kita memaku mata dan memadukan rasa, untuk terbang bersama burung-burung camar. Kepalamu bersandar di bahuku, dan tak sedikitpun aku merasa ragu untuk mengelus rambut lurus-halusmu. Kuciumi lagi keningmu saat langit mulai merah meredup. Seakan kita benar-benar menjadi penghuni satu-satunya di pantai ini, kala itu. Sayang, nikmatilah senja ini, yang sengaja kupinjam dari Tuhan untuk melihat senyummu. Kataku padamu saat itu. Terlihat dari mataku, matamu telah menghadirkan serpihan-serpihan kaca bening serupa kristal, yang bersumber dari kelopak matamu. Semakin yakin kau dalam dekap tubuhku. Kau pejamkan kedua matamu dan mulai memancungkan bibirmu ke arahku. Dan semua telah terjadi... langit dengan diamnya, membiarkan kita menjadi penari telanjang, sekaligus menjadi saksi kebisuan. Laut membeku, dan semilir angin telah menjelma menjadi sebuah kehangatan.

*
          Sebenarnya aku membawamu ke sini, ke pantai ini, bukan tanpa harapan dan alasan. Aku ingin engkau maknai saja, senja kali ini sebagai sebuah pengeling-eling. Seperti seorang ibu yang memberikan kalung untuk anak gadisnya, yang telah resmi ‘dibeli’ oleh suaminya.

          Kita kembalikan saja pada senja. Pada nyanyian debur ombak yang mulai berkecipak tajam membentur bebatuan karang. Kita atur kembali nafas perlahan. Seiring kembalinya waktu dalam dekapan rembulan.

III
          Kini, aku telah jauh meninggalkan kota tuaku. Meninggalkan tulisan-tulisanku. Meninggalkan semua yang ada dalam hidupku... dan, kau tahu apa yang kubawa saat ini, sayang? Aku hanya membawa sebuah kekalahan. Aku hanya membawa senja yang dulu sempat kupinjam dari Tuhan, untuk kukembalikan lagi padaNya. Dalam kembara ini, sayang. Aku berandai-andai: andaisaja dulu aku meminta saja senja itu, bukan sekedar meminjam kepadaNya. Mungkin, saat ini, aku tak harus mengembalikan senja itu padaNya kembali, bukan?! Hah, semua telah terjadi. Kini, aku telah benar-benar kalah! Aku telah menjadi pecundang. Aku memang menangisi semua kenangan tentang kita. Aku memang meratapi kejadian pilu yang telah berlalu. Tapi kenapa? Kenapa kau malah terbahak melihatku di balik tirai awan? Apa kau senang melihatku menderita seperti ini, sayang?
                   Sayang, kau tahu? Bahasa yang kupuja, kuagungkan, kebanggaan dalam diriku, yang kupelajari selama bertahun-tahun ini, ternyata hanyalah sebuah kesiaan bagiku. Aku tetap tak bisa mengembalikanmu dalam dekapku lagi. Kata-kata ini tak cukup untuk menuliskan apa yang ada dalam kerja hati. Hati yang selama ini menuntut untuk berbagi. Dan itu hanya tertuju pada namamu, sayang. Belum lama ini aku menuliskan sesuatu untukmu. Apakah kau menerimanya, sayang? Katakanlah padaku. Jawablah pertanyaanku, sayang! Jangan diam membisu seperti batu-batu bodoh ini! (Dengan nada keras dia bertanya. Dia meneteskan air matanya. Sebelum menatap kosong ke arah langit.)
          Sayang, tulisan itu kumasukkan dalam botol bening. Dan kuhanyutkan bersama ombak lautan yang mengetahui kepedihanku. Dengan harapan, agar tulisan itu bisa kau baca. Aku menulisnya persis seperti ini:

Jika senja yang hadir, hanya akan menjadi kegelapan yang memilukan. Mengapa kita harus menyebutnya sebagai keindahan juga kerinduan? Dan, kita, dengan setengah hati akan tersenyum, saling menatap mata, kemudian menjabat tangan, yang dalam kepuraan menatap lampu-lampu langit yang menertawakan kesetiaan kita...

Entahlah, sayang. Aku hanya bisa duduk di sini, di atas bebatuan karang yang menghadap ke barat. Sembari kunanti senja yang kuanggap sebagai dirimu. Di pinggir pantai ini, sayang, kini, telah banyak kutemui orang-orang menikmati indah senja di sini, di sebuah pantai yang dahulu hanya milik kita berdua. kini banyak terlihat, bocah-bocah kecil memainkan layang-layang, para pelancong dari luar negeri memamerkan kemolekan tubuhnya, serta gazebo-gazebo telah menjamur di pinggiran pantai ini. Kau melihatnya, kan, sayang? Ada banyak perubahan di sini, semenjak kematianmu... dan, kau tahu, sayang? Orang-orang di sekitar pantai ini, kini menganggap diriku sebagai benalu. Padahal kenyataannya, kita telah lebih dulu datang di pantai ini daripada kedatangan mereka. Dan, Mungkin, suatu saat nanti, sejarah akan mencatat nama kita sebagai; sepasang kekasih yang pertama bercinta di pantai ini *1

IV
          Lelaki itu tak dapat menyelesaikan naskah cerita pendeknya, karena dia mengalami depresi berat. Dia mengalami tekanan, kesehatan jiwanya telah terganggu, semenjak dia ditinggal kekasihnya pergi ke dunia yang abadi. Dia telah memutuskan menjadi orang gila, karena tak mampu menghadapi permasalahan yang ada. Sungguh memilukan nasibmu.

          Aku sempat mendengar apa yang dia katakan, sebelum kegilaan membawa dirinya pada kebisuan. Dia berkata:
          “Andai engkau tahu, sayang. Seringkali orang-orang di sekitarku menertawakanku. Mereka berkata seenak udelnya sendiri! Masak, gara-gara aku cinta kepadamu, aku dikira sebagai orang gila. Orang yang tidak waras. Orang yang stres karena cinta. Ha-ha-ha, mereka memang tolol, sayang. Mereka hanya tidak mengetahui saja. Kita kan sering bertemu di pantai ini kala senja. Bukankah begitu, sayang? Ha-ha-ha. Ssttt, tapi sudahlah, jangan dengarkan ocehan-ocehan mereka. Mungkin mereka hanya tidak tahu atau kurang paham saja. Dan, satu lagi sayang, yang ingin kuceritakan padamu. Tapi, tutup dulu telinggamu, sayang. Kalau-kalau kau tidak kuat mendengar kata-kata gila dari mereka. Masak mereka ngomong begini padaku: “sudahlah, Gun. Lupakan saja dia. Toh, diakan sudah meninggalkanmu?!” Tapi sayang, jangan kau dengarkan kata-kata orang gila seperti mereka ya! Mungkin saja mereka hanya iri pada kebahagiaan kita. Cup-cup-cup, sayang. Maafkan aku. Jangan menangis lagi ya, sayang. Aku benar-benar cinta kepadamu sampai akhir nanti kok. Percayalah, sayang.  I love you forever.”

          Dia telah memiliki jiwa yang lain. Jiwanya yang terdahulu telah bersembunyi di balik kenangan, yang kini hanya menjadi rongsokkan bekas dan tak terpakai. Rongsokkan itu telah membuntal seluruh kepribadian yang ada padanya. “Sungguh malang nasibmu, Gun. Gadis itu memang hamil karenamu. Dan itu memang harapanmu agar mendapat restu dari ibu, si gadis yang kamu hamili itu to? Tapi kenyataannya apa? Kamu juga ndak direstui oleh orangtua gadismu itu! Dan yang lebih parah, gadis yang kau hamili itu mati. Mati karena kehabisan banyak darah, ketika akan melahirkan anak dari benih kalian. Lantas siapa yang akan merawat bayi itu? Jika kau malah gila seperti ini?!” kata seorang sahabat lamanya, ketika menjenguk dirinya yang mendekam tak berdaya di Rumah Sakit Jiwa.

Drajat Teguh Jatmiko, Prambanan, 07 September 2012



 Keterangan: *1 Sebuah judul lagu dari Frau. Yang berjudul asli: Sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar