Senja memang selalu menghadirkan sebuah kenangan. Di balik
keindahan yang menyimpan semua itu, juga terselip segala bentuk
kerinduan akan waktu yang berlalu. Senja adalah sebentuk cahaya keemasan
yang menyimpan siluet—bayangan seorang yang kucintai. Dia adalah sosok
wanita yang memberikan inspirasi dalam penulisan ceritaku akhir-akhir
ini.
Di sini diceritakan dalam sebuah naskah cerita
pendek; dia adalah seorang lelaki yang mencintai wanitanya. Dia bekerja
sebagai penulis jalanan yang hidupnya dalam kembara. Tak pernah ada
kepastian dalam hidupnya. Berjalan mengikuti angin yang akan membawanya
kesuatu tempat, suatu saat nanti. Dan, kekasihnya, oh maaf, maksud saya
calon kekasihnya, adalah seorang yang--menurut pendapat saya
sendiri—kurang bisa menerima cinta dari si lelaki itu. Kemudian si
penulis itu tak kehabisan cara untuk meluluhkan hati wanitanya. Dia
mendapati cara; meminjam senja dari Tuhan, hanya untuk melihat senyum
keikhlasan dari wanitanya. Sungguh malang nasibmu.
Aku memohon maaf dengan sangat kepadamu. Jika aku telah lancang,
mempunyai prasangka akan dirimu, atas kehendakmu untuk mempertahankan
ketidaktahuanmu. Atau, kau ini hanya berselimut kepura-puraan saja?
Pura-pura tidak pernah mengetahui tentang perasaan ini. Atau, memang kau
tak mau tahu dengan semua ini?! Entahlah, cerita ini kubuat hanyalah
sebagai gambaran kisah romantika sendu di balik kenangan senja. Antara
aku dan kau, sayang.
Suasana senja di Pantai kenangan.
Masih kuingat betul keremangan senja yang begitu memikat. Yang
membuatku jatuh hati dan menjadi cinta kepadanya. Di antara semak
belukar tetumbuhan bakau, aku berdiri sendiri di sini, di pantai ini.
Kuhirup asin aroma pantai, hingga bunyi telisik pasir yang tergesek
telapak kaki. Burung-burung camar yang hendak kembali ke sarang, juga
nyanyian pilu dedaunan dan reranting pohon yang ditinggal oleh
indungnya, mentari. Hidup di sini sama halnya dengan menggali semua
kenangan. Mengingat setiap kejadian yang dulu pernah terjadi.
Di pantai ini. Akan kuhancurkan semua jam yang ada. Agar aku bisa
berlama-lamaan, dan bercinta dengan senja kali ini. Senja yang kuyakini
sebagai dirinya. Kupandangi lagi, langit senja dalam kesendirian, tidak
ada dia di sini. Hanya aku, sendiri.
Putih pasir pantai, juga deru
ombak lautan, menghantam cadas bebatuan karang. Lalu, sejenak kupasang
kedua bola mataku, untuk kupandangi lingsai-lingsai pelangi seusai
gerimis disiang hari. Dan, kudapati diriku, masih saja sendiri.
*
Kupejamkan lagi mata, dan kuarahkan wajah ke arah cahaya, agar bisa
kurengkuh senja yang paling indah, berhiaskan siluet wajahmu. Kudengar
lagi sayup, debur ombak dan semilir angin. Seakan membisikkan kata-kata
suci, serupa mantra puisi yang keluar dari tipis bibirmu. Dan, perlahan
bisikan itu merayap di antara sela-sela bagian tubuhku, kemudian
mengetuk pintu yang ada di dasar uluhati. Masih adakah kilau mata yang
dulu kunantikan? Aku mbatin. Ombak lautan kian pasang, seiring
keremangan yang kembali datang, menghapus siluet wajah dari senja yang
dihempaskan cahaya. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu seperti kumencintai
senja kali ini. Hah, kuhela nafas panjang. Dan, ah, tiba-tiba akupun
terbangun dari khayalan yang telah sengaja kubangun. Sebuah khayalan
tentang kisah lama yang dahulu pernah kita pahat. Membentuk relief,
kisah antara dua anak manusia yang memadu kasih, kala senja datang di
pantai ini. Saat itu kau bangun sebuah istana pasir di pantai ini. Dan,
kutambahkan dua bentuk boneka, miniatur, yang kuanggap sebagai kita.
Walau mungkin tak seindah boneka barby yang ada di etalase toko mainan.
Kusadari, buih-buih ombak telah menyentuh telapak kaki. Kulihat jam di
tangan, jarumnya telah menunjuk angka enam. Langit mulai petang.
Burung-burung yang semula hinggap di blarak kelapa, kini mengepakkan sayap, terbang jauh, sebelum hilang di ujung barat, seiring dengan tenggelamnya surya di balik samudra.
II
Aku memang sengaja menyewa sebuah losmen di tepi pantai berpasir putih
ini, sendiri saja. Agar tak ada yang menggangguku untuk memanjakan
ingatanku. Aku ingin menggali kembali bingkisan yang dulu pernah kita
tanam di sini, di pantai ini. Kau ingat, sayang? Saat itu kau memberikan
sebuah bingkisan untukku. Bingkisan berbentuk istana pasir yang cantik.
Dan saat itu juga, kubalas dengan menghadirkan senja, yang kupinjam
dari Tuhan, untuk mendapatkan senyum darimu. Tapi entahlah. Aku tak
begitu peduli, apakah kau benar-benar tulus melebarkan pipi, dan
memperlihatkan gigi kelincimu untukku. Yang terselip dalam benakku saat
itu, hanyalah sebuah keinginan untuk melihatmu tersenyum saat memandang
kedua bola mataku dengan kedua bola matamu. Di sini, aku akan mencoba
mengingat semua yang dulu pernah terjadi. Mengais kembali sisa-sisa
bangunan berbentuk ingatan, yang sering kusebut sebagai: kenangan.
Dahulu, di pinggiran sepanjang pantai ini, memang belum banyak dibangun
rumah-rumah penginapan seperti sekarang ini. Tepatnya dua tahun yang
lalu, diawal bulan september, pantai ini hanya milik kita berdua. Atau,
mungkin saja, hanya kita yang menganggap bahwa kita hanya berdua di
pantai ini, saat itu. Sayang, masih ingatkah engkau? Dahulu kita pernah
duduk berdua di sini. Di atas batu besar ini. Menghadap ke barat, tepat
memandang deburan ombak yang mengeluarkan bunyi kecipak, saat membentur
batu karang di tepian pantai. Desir angin yang menyentuh bola-bola
pasir, serta kering dedaunan yang terinjak, menghadirkan nuansa gaib
yang dengan perlahan membentuk kristal-kristal embun. Tak kusangga pula,
kristal-kristal embun itu berubah menjadi sebuah kesejukkan yang
mengalir di titik terpeka dalam diri. Melekat. Rekat. Dan tiada sekat.
Saat itu kulihat kau setia dalam lamunan, memandang jauh samudra luas.
Kuambil langkah, kusatukan kedua telapak tanganku, membentuk cekungkan
serupa gayung. Lalu kuciduk, asin air laut, dan kupercikkan tepat di
wajahmu. Kaupun terlepas dari lamunanmu. Aku tersenyum memandangmu. Dan,
masih ingatkah kau, sayang? Saat itu lidahmu sedikit kau julurkan
hingga menyentuh percikan air yang tersisa di bibir bagian atas, di
bawah hidungmu. Aku mencoba mengusap air yang tersisa di bibirmu, tapi
kau malah mengambil langkah cepat, membungkukkan tubuhmu untuk mengambil
asin air laut dengan tanganmu. Kau percikkan asin air laut untuk
membalas, tepat di wajahku. Kita tersenyum dan tertawa bersama. Telah
kita temukan kebersamaan di pantai ini. Kau berlari. Akupun mengejarmu.
Kau terjatuh di atas pasir pantai. Aku menolongmu. Kau menarikku. Aku
terjatuh tepat di atas tubuhmu. Kemudian hening... kedua mata kita
saling memandang tiada jeda untuk berkedip. Jantung berdetak semakin
memburu. Dan, pasir pantai pun telah beralih fungsi menjadi ranjang
tempat kita membagi cerita cinta...
Memang tak ada jam
pasir yang membatasi waktu kita, kala itu. Namun, aku telah menangkap
adanya kelelahan—dalam isyarat mata yang mulai bosan melihat—seonggok
bara yang mulai redup di hadapanmu itu. Kuikuti gerakmu menegakkan tubuh
yang terkulai. Dan kita mulai membersihkan butir-butir pasir yang
melekat pada masing-masing pakaian yang kita kenakan. Aku mencoba,
menyulut lagi bara yang ada dalam diriku, untuk sekedar hangatkan
suasana yang jadi beku. Kutatap lagi matamu dalam-dalam, lalu kudaratkan
kecupan hangat tepat di keningmu. Seraut wajah cerah, memerah dan
tertunduk. Aku mulai menuntun langkah kakimu dengan jabat erat tanganku.
Kuajak kau untuk duduk di atas bebatuan karang yang berjajar lebih dari
separuh garis pantai. Mungkin, kali ini kita benar-benar menghentikan
waktu. Di antara lingsai-lingsai pelangi, kita memaku mata dan memadukan
rasa, untuk terbang bersama burung-burung camar. Kepalamu bersandar di
bahuku, dan tak sedikitpun aku merasa ragu untuk mengelus rambut
lurus-halusmu. Kuciumi lagi keningmu saat langit mulai merah meredup.
Seakan kita benar-benar menjadi penghuni satu-satunya di pantai ini,
kala itu. Sayang, nikmatilah senja ini, yang sengaja kupinjam dari Tuhan
untuk melihat senyummu. Kataku padamu saat itu. Terlihat dari mataku,
matamu telah menghadirkan serpihan-serpihan kaca bening serupa kristal,
yang bersumber dari kelopak matamu. Semakin yakin kau dalam dekap
tubuhku. Kau pejamkan kedua matamu dan mulai memancungkan bibirmu ke
arahku. Dan semua telah terjadi... langit dengan diamnya, membiarkan
kita menjadi penari telanjang, sekaligus menjadi saksi kebisuan. Laut
membeku, dan semilir angin telah menjelma menjadi sebuah kehangatan.
*
Sebenarnya aku membawamu ke sini, ke pantai ini, bukan tanpa harapan
dan alasan. Aku ingin engkau maknai saja, senja kali ini sebagai sebuah pengeling-eling. Seperti seorang ibu yang memberikan kalung untuk anak gadisnya, yang telah resmi ‘dibeli’ oleh suaminya.
Kita kembalikan saja pada senja. Pada nyanyian debur ombak yang mulai
berkecipak tajam membentur bebatuan karang. Kita atur kembali nafas
perlahan. Seiring kembalinya waktu dalam dekapan rembulan.
III
Kini, aku telah jauh meninggalkan kota tuaku. Meninggalkan
tulisan-tulisanku. Meninggalkan semua yang ada dalam hidupku... dan, kau
tahu apa yang kubawa saat ini, sayang? Aku hanya membawa sebuah
kekalahan. Aku hanya membawa senja yang dulu sempat kupinjam dari Tuhan,
untuk kukembalikan lagi padaNya. Dalam kembara ini, sayang. Aku
berandai-andai: andaisaja dulu aku meminta saja senja itu, bukan sekedar
meminjam kepadaNya. Mungkin, saat ini, aku tak harus mengembalikan
senja itu padaNya kembali, bukan?! Hah, semua telah terjadi. Kini, aku
telah benar-benar kalah! Aku telah menjadi pecundang. Aku memang
menangisi semua kenangan tentang kita. Aku memang meratapi kejadian pilu
yang telah berlalu. Tapi kenapa? Kenapa kau malah terbahak melihatku di
balik tirai awan? Apa kau senang melihatku menderita seperti ini,
sayang?
Sayang, kau tahu? Bahasa yang kupuja,
kuagungkan, kebanggaan dalam diriku, yang kupelajari selama
bertahun-tahun ini, ternyata hanyalah sebuah kesiaan bagiku. Aku tetap
tak bisa mengembalikanmu dalam dekapku lagi. Kata-kata ini tak cukup
untuk menuliskan apa yang ada dalam kerja hati. Hati yang selama ini
menuntut untuk berbagi. Dan itu hanya tertuju pada namamu, sayang. Belum
lama ini aku menuliskan sesuatu untukmu. Apakah kau menerimanya,
sayang? Katakanlah padaku. Jawablah pertanyaanku, sayang! Jangan diam
membisu seperti batu-batu bodoh ini! (Dengan nada keras dia bertanya. Dia meneteskan air matanya. Sebelum menatap kosong ke arah langit.)
Sayang, tulisan itu kumasukkan dalam botol bening. Dan kuhanyutkan
bersama ombak lautan yang mengetahui kepedihanku. Dengan harapan, agar
tulisan itu bisa kau baca. Aku menulisnya persis seperti ini:
Jika
senja yang hadir, hanya akan menjadi kegelapan yang memilukan. Mengapa
kita harus menyebutnya sebagai keindahan juga kerinduan? Dan, kita,
dengan setengah hati akan tersenyum, saling menatap mata, kemudian
menjabat tangan, yang dalam kepuraan menatap lampu-lampu langit yang
menertawakan kesetiaan kita...
Entahlah, sayang. Aku hanya
bisa duduk di sini, di atas bebatuan karang yang menghadap ke barat.
Sembari kunanti senja yang kuanggap sebagai dirimu. Di pinggir pantai
ini, sayang, kini, telah banyak kutemui orang-orang menikmati indah
senja di sini, di sebuah pantai yang dahulu hanya milik kita berdua.
kini banyak terlihat, bocah-bocah kecil memainkan layang-layang, para
pelancong dari luar negeri memamerkan kemolekan tubuhnya, serta
gazebo-gazebo telah menjamur di pinggiran pantai ini. Kau melihatnya,
kan, sayang? Ada banyak perubahan di sini, semenjak kematianmu... dan,
kau tahu, sayang? Orang-orang di sekitar pantai ini, kini menganggap
diriku sebagai benalu. Padahal kenyataannya, kita telah lebih dulu
datang di pantai ini daripada kedatangan mereka. Dan, Mungkin, suatu
saat nanti, sejarah akan mencatat nama kita sebagai; sepasang kekasih
yang pertama bercinta di pantai ini *1
IV
Lelaki itu tak dapat menyelesaikan naskah cerita pendeknya, karena dia
mengalami depresi berat. Dia mengalami tekanan, kesehatan jiwanya telah
terganggu, semenjak dia ditinggal kekasihnya pergi ke dunia yang abadi.
Dia telah memutuskan menjadi orang gila, karena tak mampu menghadapi
permasalahan yang ada. Sungguh memilukan nasibmu.
Aku sempat mendengar apa yang dia katakan, sebelum kegilaan membawa dirinya pada kebisuan. Dia berkata:
“Andai
engkau tahu, sayang. Seringkali orang-orang di sekitarku
menertawakanku. Mereka berkata seenak udelnya sendiri! Masak, gara-gara
aku cinta kepadamu, aku dikira sebagai orang gila. Orang yang tidak
waras. Orang yang stres karena cinta. Ha-ha-ha, mereka memang tolol,
sayang. Mereka hanya tidak mengetahui saja. Kita kan sering bertemu di
pantai ini kala senja. Bukankah begitu, sayang? Ha-ha-ha. Ssttt, tapi
sudahlah, jangan dengarkan ocehan-ocehan mereka. Mungkin mereka hanya
tidak tahu atau kurang paham saja. Dan, satu lagi sayang, yang ingin
kuceritakan padamu. Tapi, tutup dulu telinggamu, sayang. Kalau-kalau kau
tidak kuat mendengar kata-kata gila dari mereka. Masak mereka ngomong
begini padaku: “sudahlah, Gun. Lupakan saja dia. Toh, diakan sudah
meninggalkanmu?!” Tapi sayang, jangan kau dengarkan kata-kata orang gila
seperti mereka ya! Mungkin saja mereka hanya iri pada kebahagiaan kita.
Cup-cup-cup, sayang. Maafkan aku. Jangan menangis lagi ya, sayang. Aku
benar-benar cinta kepadamu sampai akhir nanti kok. Percayalah, sayang. I
love you forever.”
Dia telah
memiliki jiwa yang lain. Jiwanya yang terdahulu telah bersembunyi di
balik kenangan, yang kini hanya menjadi rongsokkan bekas dan tak
terpakai. Rongsokkan itu telah membuntal seluruh kepribadian yang ada
padanya. “Sungguh malang nasibmu, Gun. Gadis itu memang hamil karenamu.
Dan itu memang harapanmu agar mendapat restu dari ibu, si gadis yang
kamu hamili itu to? Tapi kenyataannya apa? Kamu juga ndak direstui oleh
orangtua gadismu itu! Dan yang lebih parah, gadis yang kau hamili itu
mati. Mati karena kehabisan banyak darah, ketika akan melahirkan anak
dari benih kalian. Lantas siapa yang akan merawat bayi itu? Jika kau
malah gila seperti ini?!” kata seorang sahabat lamanya, ketika menjenguk
dirinya yang mendekam tak berdaya di Rumah Sakit Jiwa.
Drajat Teguh Jatmiko, Prambanan, 07 September 2012
Keterangan: *1 Sebuah judul lagu dari Frau. Yang berjudul asli: Sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar